Mengapa Ada Hukum yang Dapat Dipahami oleh Makhluk Seperti Kita?
Ada kemungkinan resonansi yang sangat menarik di sana, meskipun perlu hati-hati agar tidak mengubah teks keagamaan menjadi “teori sains”. Saya melihatnya bukan sebagai hubungan sebab-akibat ilmiah, melainkan sebagai kosmologi: cara memahami posisi manusia di dalam keseluruhan realitas.
Dalam kisah Al-Qur’an, Tuhan berfirman:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) semuanya…”
— Al-Qur’an, QS 2: 31
Lalu Adam diminta menyebutkannya di hadapan para malaikat.
Selama berabad-abad, para mufasir memahami “nama-nama” (al-asmā’) dengan beragam cara. Ada yang menafsirkannya sebagai nama seluruh benda, ada yang memahaminya sebagai bahasa, ada pula yang melihatnya sebagai pengetahuan tentang hakikat sesuatu. Yang menarik adalah bahwa hampir semua tafsir itu menyiratkan hal yang sama:
manusia diberi kapasitas untuk mengenali, membedakan, dan memahami dunia.
Jika kita tarik ke pertanyaan filosofis:
“Mengapa ada hukum yang dapat dipahami oleh makhluk seperti kita?”
maka kosmologi Islam dapat menjawab:
karena kemampuan memahami itu sendiri merupakan anugerah dan bagian dari tugas manusia sebagai khalifah.
Dengan demikian, relasinya menjadi seperti ini:
Tuhan menciptakan alam dengan ukuran, keseimbangan, dan keteraturan.
Alam hadir sebagai sesuatu yang dapat dibaca, ditafakuri, dan dipelajari.
Manusia dianugerahi kemampuan memberi nama, mengklasifikasi, memahami pola, dan menarik makna.
Dalam bahasa modern, kegiatan ilmiah sebenarnya sangat dekat dengan tindakan “memberi nama”:
mengidentifikasi spesies,
mengelompokkan unsur,
merumuskan hukum,
membuat model matematika,
membangun konsep-konsep.
Sains adalah upaya terus-menerus untuk mengatakan, “Ini apa? Bagaimana cara kerjanya? Apa polanya?”
Ada kemiripan yang indah di sini. Adam menyebut nama-nama; ilmuwan menyusun taksonomi, tabel periodik, teori medan, atau model kosmologi. Tentu keduanya tidak identik, tetapi keduanya bergerak dari keyakinan bahwa dunia dapat dikenali.
Bahkan beberapa pemikir Muslim klasik melihat alam sebagai āyāt (tanda-tanda). Kata āyah digunakan Al-Qur’an baik untuk ayat-ayat wahyu maupun tanda-tanda di alam. Artinya, realitas bukan sekadar benda mati, melainkan sesuatu yang mengandung keterbacaan.
Namun, ada juga perbedaan penting dengan sebagian filsafat modern.
Dalam tradisi modern pasca-David Hume, muncul kecurigaan: mungkin keteraturan hanyalah kebiasaan pikiran kita; mungkin kita tidak pernah benar-benar tahu mengapa alam teratur.
Sementara dalam kosmologi Islam, keteraturan itu berakar pada hikmah Ilahi. Dunia dapat dipahami bukan karena kebetulan, tetapi karena berasal dari Tuhan yang Mahatahu. Akal manusia tidak asing terhadap dunia karena keduanya berada dalam horizon penciptaan yang sama.
Meski demikian, ada ketegangan yang sehat. Kisah Adam juga mengingatkan bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas. Setelah Adam diajari nama-nama, para malaikat berkata:
“Maha Suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.”
— Al-Qur’an, QS 2 : 2
Di sini muncul etika epistemik yang menarik:
dunia memang dapat dipahami,
manusia memang dipanggil untuk memahami,
tetapi pemahaman itu tidak pernah mutlak.
Mungkin “matahari” dalam kosmologi ini bukan sekadar bahwa alam semesta memiliki hukum, melainkan bahwa:
pengetahuan adalah relasi.
Tuhan mengajarkan, alam menyingkapkan, manusia merespons dengan memberi nama.
Dan karena itu mengetahui bukanlah tindakan menguasai sepenuhnya, melainkan partisipasi dalam suatu dialog kosmik: membaca tanda-tanda dunia dengan akal yang dianugerahkan, sambil menyadari bahwa selalu ada sisa misteri yang tidak habis disebut oleh nama-nama.
B I B L I O
Untuk bacaan lanjutan, rujukan yang membentuk semacam “jembatan” antara tiga wilayah: filsafat sains, kosmologi Islam, dan teologi pengetahuan. Bukan sekadar daftar buku, tetapi teks-teks yang dapat mengantar pembaca menelusuri pertanyaan: mengapa dunia dapat dipahami oleh makhluk seperti kita?
1. David Hume. An Enquiry Concerning Human Understanding. Edited by Tom L. Beauchamp. Oxford: Oxford University Press, 1999.
Bacaan klasik tentang problem induksi: mengapa kita menganggap masa depan akan menyerupai masa lalu? Hume menunjukkan bahwa keteraturan alam yang menjadi dasar sains tidak dapat dibuktikan secara logis melalui pengalaman semata.
2. Thomas F. Torrance. Theological Science. London: Oxford University Press, 1969.
Salah satu karya paling penting mengenai hubungan antara rasionalitas ilmiah dan teologi. Torrance berargumen bahwa dunia dapat dipahami karena terdapat kesesuaian antara struktur realitas dan kemampuan kognitif manusia.
3. Seyyed Hossein Nasr. Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press, 1996.
Menguraikan bagaimana tradisi Islam memahami alam sebagai tanda (āyāt) yang sarat makna, bukan sekadar materi netral. Sangat relevan untuk menghubungkan sains modern dengan kosmologi Islam.
4. Toshihiko Izutsu. God and Man in the Qur’an: Semantics of the Qur’anic Weltanschauung. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2002.
Analisis mendalam tentang struktur makna dalam Al-Qur’an, termasuk relasi Tuhan, manusia, dan dunia. Izutsu membantu melihat bagaimana konsep seperti āyah, pengetahuan, dan penamaan membentuk pandangan dunia Qur’ani.
5. Fazlur Rahman. Major Themes of the Qur’an. 2nd ed. Chicago: University of Chicago Press, 2009.
Pembahasan yang jernih mengenai tema-tema utama Al-Qur’an, termasuk penciptaan, manusia sebagai khalifah, pengetahuan, dan tanggung jawab moral. Berguna untuk membaca kembali kisah Adam dalam horizon kosmologis yang lebih luas.








Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!