Kaidah Kebahasaan I: Standardisasi Bahasa dan Pengutipan
Teks berita memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan jenis teks lain. Karakteristik tersebut tecermin dari kata dan kalimat yang digunakan. Pada topik ini, kita akan mempelajari dua kaidah kebahasaan pertama: penggunaan bahasa standar (baku) dan penulisan kalimat langsung untuk pengutipan pernyataan narasumber.
1. Penggunaan Bahasa Bersifat Standar (Baku)
Dalam penulisan berita, terutama oleh media-media nasional, penggunaan bahasa yang bersifat standar (baku) sangat diutamakan.
- Tujuan Utama: Penggunaan bahasa baku bertujuan untuk menjembatani pemahaman banyak kalangan. Karena bahasa standar sifatnya universal, informasi yang disampaikan menjadi lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang daerah.
- Hal yang Dihindari: Media-media nasional akan menghindari bahasa yang bersifat populer (slang/bahasa gaul) maupun bahasa kedaerahan agar tidak menimbulkan salah tafsir atau ketidakpahaman bagi pembaca di wilayah lain.
Tips Tambahan Standardisasi Ejaan (EYD): Standardisasi bahasa juga mencakup ketepatan penulisan ejaan dan tanda baca:
- Penulisan Nama Geografis/Tempat: Huruf awal dari setiap kata yang menunjukkan nama tempat harus menggunakan huruf kapital (contoh: penulisan yang benar adalah Cilandak Utara dan Jakarta Selatan).
- Penulisan Lambang Bilangan: Angka yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata sebaiknya ditulis dengan huruf (contoh: angka 16 ditulis menjadi enam belas).
2. Penggunaan Kalimat Langsung
Teks berita sering kali menyajikan variasi antara kalimat langsung dan kalimat tidak langsung. Kalimat langsung digunakan secara khusus untuk mengutip secara persis pernyataan yang disampaikan oleh narasumber berita.
- Ciri-Ciri Kalimat Langsung:
- Ditandai dengan dua tanda petik ganda (“…”) di awal dan akhir kutipan.
- Disertai dengan keterangan penyerta (seperti: paparnya, tutur…, kata…, tegas…).
- Contoh Kalimat Langsung dalam Berita:
- “Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendaki dan beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah Gunung Slamet,” paparnya.
- “Sebelum meletus, gempa tremor semakin rapat dengan amplitudo sekitar 15 milimeter. Karena tremor membesar, gempa vulkanik sudah tidak terekam,” tutur Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Bromo, Gde Suantika.
3. Aktivitas Pembelajaran Mandiri
Untuk menguji pemahamanmu mengenai bahasa baku dan kalimat langsung, kerjakan latihan di bawah ini:
a. Identifikasi Kalimat Langsung
Bacalah teks berita berikut dengan saksama:
“Itu lokasinya masuk perkampungan. Jadi, kita melalui Jalan Fatmawati Raya, kemudian masuk Jalan Cipete, dan masuk Jalan Haji Jian,” kata petugas Pemadam Kebakaran Sudin Jakarta Selatan, Dendi.
Jawablah pertanyaan berikut:
- Tunjukkan bagian manakah yang merupakan pernyataan narasumber!
- Tunjukkan bagian manakah yang merupakan keterangan penyerta dari kalimat langsung tersebut!
b. Latihan Menyunting Ejaan
Perbaikilah penulisan kata-kata di bawah ini agar sesuai dengan standar bahasa baku (EYD) yang benar:
- jakarta barat ___
- 12 unit damkar (Ubah penulisan angka 12 menjadi huruf) ___
- Pentingnya penggunaan bahasa yang bersifat standar (baku) untuk memudahkan pemahaman bagi semua kalangan.
- Penggunaan kalimat langsung (ditandai dengan dua tanda petik ganda) sebagai variasi dari kalimat tidak langsung untuk mengutip narasumber.
- Penerapan fungsi konjungsi "bahwa" sebagai penerang kata yang mengikutinya dalam kalimat tidak langsung.
